RSS

Manusia dengan Hidup Paling Berat

20 Jul

​Siapa kira-kira manusia yang paling berat menjalani hidup di dunia?

Seharusnya, ya Nabi Adam as dan Ibunda Hawa.*
Betapa tidak, Nabi Adam as sejak kecil hingga dewasa (dan beristri) hidup di surga. 

Hidup dengan sekian banyak kenikmatan, dengan segenap kemewahan, dengan aneka pilihan pesona yang tiada bandingnya di dunia. 

Pun demikian dengan pasangannya, Ibunda Hawa. 
Lalu, dalam sekejap semuanya hilang. Tak mungkin lagi diraih. Berganti dengan sekian banyak kesulitan hidup di dunia. Pun, terpisah dengan sang kekasih.

Beraaaat sekali. 
Ya, 

Orang yang sudah terbiasa hidup dengan kenikmatan, lalu tiba-tiba melarat, pasti akan merasa lebih sengsara dibanding yang sejak kecil sudah pernah mengalami masa-masa yang sulit. 
Orang yang terbiasa naik mobil BMW, lalu dengan tiba-tiba harus kehilangan dan berganti naik ojek, pasti akan merasa amat berat jika dibanding dengan yang terbiasa naik motor sendiri, lalu terpaksa nggojek. 
Seorang pejabat yang terbiasa dihormati dan mendapat aneka fasilitas mentereng, pasti akan lebih merana jika tiba-tiba hidupnya berbalik dan mendekam di penjara. Dibanding dengan seorang pencopet yang dipenjara karena tertangkap polisi. 
Seorang direktur perusahaan besar, akan lebih sengsara jikalau perusahaannya tiba-tiba bangkrut dan ia tak punya apa-apa. Jika dibanding dengan office boy perusahaan itu yang kehilangan pekerjaannya. 
Lalu, apa yang harus dilakukan agar kenikmatan yang sudah ada di genggaman itu tidak hilang? 

Ya, bersyukur saja. 
Bukankah, kata Allah; andai kita mau bersyukur, pasti selalu ditambah dan ditambah nikmat-nikmat oleh-Nya. 

Cermati saja, orang sekeliling kita yang rajin sedekah, rajin bayar zakat, rajin berbuat baik dengan sekitarnya, adakah mereka bertambah miskin? Adakah yang tiba-tiba bangkrut? 
Terlepas dari skenario Allah, 

Seharusnya tiada masalah andai Nabi Adam mengabaikan buah terlarang itu dan memilih menikmati sekian banyak limpahan buah dan kenikmatan lainnya. 

Toh, cuma satu saja yang terlarang. 
Begitu pula dengan hidup kita. 

Saat kita makmur dan sejahtera, pasti ada kerikil2 “kecil”–yang justru berpotensi merusak yang sudah kita punya. 
Contohnya, 

Kewajiban zakat, bisa menjadi kerikil bagi harta kita andai tidak “dibuang”. 

Meskipun kerikil (amat kecil), kalau bertempat di organ penting, bisa bikin sengsara. 
Bisa jadi batu ginjal. 

Bisa jadi kelilipan saat di mata. 

Bisa bikin gigi cenut2 seketika saat termakan bareng nasi. 

Bisa bikin… 
Babat, 20 Juli 2016

@mskholid 

@ruanginstalasi 
#MencobaNulisLagi 

#HasilNgelamundiMotor

#TulisannyaMumet

#LamaGakNulis 

*Tapi, meskipun berat, ternyata Nabi Adam as tidak merasa sengsara. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Juli 2016 in Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: