RSS

Dua Ayah, Dua Nasihat

12 Nov

Dua Ayah, Dua Nasihat

Almarhum Bapak meninggalkan nasihat berharga. Ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Jauh sebelum saya (punya perut) sebesar ini. Jauh sebelum saya pulang kampung–bermasyarakat.

Bapak berpesan; “Hidup bermasyarakat itu gampang-gampang sulit. Yang terpenting itu, jangan kau “tampakkkan” kepintaranmu. Mengalir saja.
Tapi, apabila dipercaya masyarakat untuk tugas apapun, jangan pernah mundur. Jangan kau tolak.”

Pesan itu memaksa saya harus menyiapkan diri untuk tugas apapun. Menata diri agar mampu mengemban amanah apapun.

Saya ingat, saat makan malam berdua sepulang dari ngantor koran Duta Masyarakat, Kak Ahmad Millah, berpesan:

“Orang yang beruntung itu, Lid. Bukan orang yang tidak ngapa-ngapain, terus mendapat durian runtuh.
Tapi, yang beruntung itu, orang yang siap ketika kesempatan itu datang. Makanya, sebelum kesempatan itu tiba, siapkan dirimu!”

Pesannya.
Dengan nada seorang kakak pada adiknya.

~~~

Abah mertua saya punya nasihat berbeda. Saya jarang ngobrol berdua secara pribadi. Kecuali ketika perjalanan gantian nyetir mobil.

Tapi, Abah menyampaikan nasihatnya lewat perilaku.
Beliau sosok pekerja keras. Hampir tak pernah ada kesempatan bermalas-malasan.

Mengurusi dua usaha berbeda tingkat menengah. Omzetnya saya yakin di atas 1 miliar.
Sering harus riwa-riwi menempuh 3-4 tempat dengan jarak berjauhan. Pulang, kerap lewat tengah malam. Seringkali kami sudah terlelap.

Beliau masih istiqomah berangkat mengajar di almamater di Kranji. Dengan perjalanan 2 jam pulang pergi. Istiqomah yang tak akan beliau tinggalkan, bila tidak sedang berbenturan dengan jadwal mendesak lainnya. Dua hari seminggu.

Pun, tiap malam tak pernah lupa shalat tahajud. Plus jamaah subuh di masjid, memenuhi jadwal imam tetap subuh.

Masih sempatnya pula beliau mengurusi masjid, sebagai ketua ta’mir. Padahal, andai beliau menolak pun, itu amat pantas sebab kesibukannya.

Di waktu senggang, kesibukannya adalah nderes hafalan Alquran atau melanjutkan hafalannya.

Lewat perilaku dan teladan itulah beliau menasihatiku.
Bekal bagiku untuk mendidik anak cucu dan keturunannya.

Babat, 12 Nopember 2015

*catatan atas sebuah amanah yang terlalu dini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2015 in Bapak, Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: