RSS

Beda Istilah “Wiridan” dan “Ma’tsurat”

11 Jun

Beda Istilah “Wiridan” dan “Ma’tsurat”

Kalau di NU sudah sejak lama, puluhan tahun, kami mengenal istilah wiridan. Zikir berisi kalimat2 thoyyibah, tasbih, tahlil, tahmid, dan ayat2 alquran ajaran Rasulullah saw.

Wiridan ini, sejak kecil tak kami ketahui asal usulnya. Tak ada buku yang dicetak dengan nama penyusunnya. Tak ada pula buku dengan nama dan alamat penerbitnya. Semua kami hafal begitu saja, di luar kepala, dari guru2 kami, kiai, ustadz, dan para imam sambil mengamalkannya 5x sehari tiap usai shalat.

Lama2 hafal sendiri. Tentu saja dengan suara keras dan bersama2. Sebagaimana kami hafal Qalbul Quran, surah Yasin, tanpa pernah mengingat kapan kami menghafalnya.

Namun, saat besar, saat sudah bisa membaca kitab kuning sendiri, atau kitab berbahasa Arab, atau Shahih Bukhari Muslim dan kutubut tis’ah lainnya, kami paham, bahwa semua bacaan dalam wiridan itu amat besar pahalanya. Semua atas anjuran Rasulullah saw.

Di sisi lain, teman-teman PKS kami juga punya. Dikenal dengan nama “ma’tsurat”. Disusun oleh Imam Hasan Al Banna, ulama dari Mesir.

Ma’tsurat ini amat terkenal di kalangan teman2 kami itu. Bukunya dicetak kecil2 dengan tertulis nama penyusun dan penerbitnya. Rata2 teman-teman kami dari PKS selalu membawa buku kecil ini saat bepergian. Bekal untuk “wiridan” ketika usai shalat.

Disebut ma’tsur karena sesuai dengan maksud artinya yakni bersumber dari dalil2, riwayat dari Rasulullah saw.

Saya coba cek, isinya hampir sama persis dengan wiridan yang sejak puluhan tahun diamalkan warga NU. Hanya, ada beberapa pengurangan dan perubahan urutan bacaan zikir.

——————

Namun, ternyata. Istilah wiridan dan ma’tsurat ini bisa menimbulkan masalah. Bagi yang baru mengenal agama ini kala di kampus negeri, akan dengan mudah menyebut wiridan tidak sunnah, tidak sesuai dalil yang Shahih. Yang Shahih dan ma’tsur adalah buku Wirid kecil yang mereka bawa.

Lha…?????!!!
#AyoMondok

Ini kan bahaya besar.
Mengancam persatuan umat di tengah keterpurukan. Di kala kita sedang berusaha bangkit dari penindasan, kita justru disibukkan oleh soal2 kecil yang tak berguna.

Yang zikir bareng juga dimasalahkan. Padahal, masalah sebenarnya itu kan pada umat yang tidak mau berzikir. Atau mengingkari bahwa zikir itu sunnah.

Sesungguhnya, saudara2 kami dari kampus2 besar negeri ini amat berpotensi. Modal besar kebangkitan umat, jadi kami berharap NU tidak menjauhi mereka, tidak memusuhi mereka. Hanya karena ketidakmengertian agama, mereka bisa salah kecil. Karena dari tangan merekalah ide2 kreatif kebangkitan umat muncul.

Wallahu a’lam
Ruang Instalasi
Barra Kids Wear
Garuda Lestari Konveksi
PIN BB 7ED7A5A4

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juni 2015 in Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: