RSS

Bolehkah Politik Menghalalkan Sedikit “Dosa”?

24 Mar

Beberapa hari ini, akun media sosial ramai menampilkan foto kampanye salah satu partai. Dengan berlatar warna hijau dan foto salah satu ulama besar bangsa, di depannya terpampang gambar tiga orang cewek muda. Sepertinya sedang berjoget dan menyanyikan lagu-lagu. Banyak yang mencemooh dan melontarkan cibiran sinis ke partai tersebut—entah partai apa. Di foto tak terlihat nama dan logo partai.

Kesimpulan sementara saya kampanye itu bagian strategi partai demi meraih suara kelompok tertentu. Bisa kalangan anak muda, orang-orang jalanan, penggemar dangdut oplosan, tuku sate, dan sebagainya. Tentunya bukan kalangan partai tersebut berasal.

Jika memang benar partai itu menjanjikan kebaikan dan kemaslahatan, timbul pertanyaan; bisakah hal seperti itu dibenarkan?

Atau bahasa fikihnya; Bolehkah melakukan sedikit cara “nakal” demi kemaslahatan yang lebih banyak?

Beberapa minggu kemarin, saya mendengar pengajian radio salah satu kiai dengan pondok besar. Maksudnya, besar bangunannya dan banyak jumlah santrinya. Salah satu pesan inti beliau dalam siaran radio tersebut: “Politik itu harus bisa ‘mbujuk’i’. Kalau tidak bisa mbujuk’i, kapan menangnya. Yang penting niatnya baik dan akan menghasilkan kebaikan yang berlipat-lipat banyaknya dari sedikit bujuk’i itu.”

Selanjutnya, beliau bermain logika itung-itungan. Kalau dengan sedikit mbujuk’i (dosa sedikit—mungkin), lalu memperoleh pahala yang banyak (—ini juga masih mungkin). Kalau dijumlahkan, maka masih dapat untung pahala. Karena dosa sedikit itu terbayarkan oleh pahala yang banyak. Lunas. Bahkan masih dapat laba.”

Beberapa hari berikutnya. Saat istirahat sekolah, seorang guru mengajak diskusi tentang cara yang “salah” demi memperoleh hasil yang baik & benar. Karena beliau ini lulusan pondok “nyel”, maka yang dibicarakan adalah tentang konsep barokah. Sang guru membandingkan para alumni pesantren besar kiai yang saya sebut di atas dengan salah satu ponpes terbesar dan tertua di Jawa Timur.

Beliau bercerita tentang prinsip sang Mbah Yai dalam berpolitik, “Menang kalah bukan kehendak kita. Yang penting istiqomah dan berusaha terus berjuang.”

Yang luar biasa, lanjut cerita Pak Guru, saat beliau wafat ditemukan sebungkus kresek (plastik) besar penuh uang tunai. Di luar bungkusannya tertulis: “Untuk Partai…”

#SaveIndonesia
#PilihCalegBersih

Tritunggal, 24 Maret 2014

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Maret 2014 in Catatan Harian, Fikih, Politik

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: