RSS

“Piye Kabare, Le? Enak Zamanku tho?” Benarkah?

30 Nov

bener-po-ra-cah_Entah siapa yang memulai (atau mungkin menciptakan dengan tujuan-tujuan tertentu). Tulisan bergambar mantan presiden Soeharto ini begitu populer beberapa bulan terakhir. Kita banyak menjumpainya di punggung truk, stiker, atau poster. Bahkan, saya menjumpai kaos dengan tulisan senada dijual di perempatan-perempatan lampu merah.

Tanpa sadar, sebagian dari kita membenarkannya. Bahkan mulai merutuki zaman reformasi yang kian tidak pasti. Seolah kita dibuat lupa terhadap penderitaan bangsa ini akibat ulah orde baru dan kroni-kroninya. Padahal, ia baru runtuh sekitar 15 tahun lewat—setelah berkuasa 32 tahun.

Pertanyaannya, benarkah frasa itu?
Saya tidak mencoba mengungkapkan satu persatu fakta kebobrokan yang disemai orde baru. Tak akan cukup tulisan ringan ini. Aktivis mahasiswa (khususnya 1998) pasti sudah bisa merasakannya sendiri. Bila Anda tanya aktivis politik yang berseberangan dengan partai penguasa, mereka akan langsung bercerita berbagai peristiwa pedih yang dialami. Penuh dendam berapi-api. Ataupun bila Anda tanyakan para kiai, ustadz, atau tokoh agama yang menolak tunduk kemauan partai penguasa, akan mendapatkan cerita intimidasi yang hampir serupa.

Kebobrokan penguasa orde baru adalah penyebab utama bobroknya ekonomi kita hingga saat ini. Modusnya, selain melalui mark up proyek, juga lewat keppres yang membuka peluang korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dan itu berlangsung puluhan tahun. Sudah mendarah daging dan seolah menjadi sebuah kewajaran. Rasanya terlalu sulit untuk mengembalikan dalam keadaan normal dalam waktu dekat.

Listrik misalnya. Sejak tahun 1945, urusan listrik ditangani pemerintah lewat Jawatan Listrik dan Gas. Tahun 1964, dibentuk PLN dan PGN. Persoalan listrik mulai muncul pada tahun 1992 saat swasta diperkenankan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik. Dikeluarkan Kepres No.37 Tahun 1992, dengan alasan untuk mengantisipasi kekurangan pasokan listrik bagi masyarakat. Saat itu, pemerintah menggembor-gemborkan ketidakcukupan pasokan listrik. Sehingga pemerintah menganggap perlu membuka pintu lebar-lebar buat usaha swasta guna membangin pembangkit listrik baru. (Wawan Tunggul Alam (2009), Di Bawah Cengkeraman Asing).

Kepres busuk tersebut mengharuskan pemerintah membeli 100 persen hasil produksi listrik swasta. Walaupun harga jual listrik (dari swasta) jauh lebih mahal daripada harga jual pemerintah kepada masyarakat. Sudwikatmoko (PT Cikarang Listrindo) memperoleh hak monopoli menyuplai listrik ke kawasan industri Jababeka, Karawang selama sepuluh tahun (1992-2002). Liem Sioe Liong punya monopoli di kawasan industri Bukit Indah City, Cikampek.

Selain dua pengusaha tersebut, banyak pengusaha lain (dan siapa pun) jelas tertarik dengan bisnis listrik model ini. Kompas mencatat, dari 27 kontraktor listrik swasta, kebanyakan adalah pengusaha yang dekat dengan orde baru. Ada Bob Hasan, Sigit Soeharto, Sukamdani Sahid, Hasyim Djojohadikusumo, Bambang Triatmodjo, dan lain sebagainya. Perbuatan busuk ini baru terkuak saat orde baru tumbang.

Yang gawat, PLN wajib membeli seluruh hasil produksi setrum dari swasta itu. Lihat saja, PLTG Sengkang Sulawesi milik Mbak Tutut yang dijual ke PLN seharga 6,55 sen dolar AS perk kwh atau sekitar Rp 339 (saat itu), oleh pemerintah dijual ke masyarakat Rp 170 per kwh. Itu berarti pemerintah harus nombok Rp 169 per kwh. Itu baru dari satu proyek listrik, belum yang lainnya. Malah PLTU Paiton menjual listrik ke PLN seharga 8,56 sen dolar AS.

Dengan kondisi seperti itu, tak terbayangkan betapa berat beban yang ditanggung PLN. Belum lagi ditambah praktik-praktik korupsi yang pernah ada, ataupun melemahnya nilai tukar rupiah. Itulah sedikit fakta “Zamanku”. Kalau sudah begini, masih yakin zamane Mbah-e masih lebih baik daripada sekarang?

Tritunggal, 30 Nopember 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 November 2013 in Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: