RSS

Berbuka Bukan Pelampiasan

14 Jul

berbukaKalau dipikir-pikir, puasa itu ibadah luar biasa. Bayangkan, andai kita tumbuh tidak di lingkungan muslim yang sejak kecil sudah dibiasakan puasa. Kita hidup di salah satu negara Eropa non muslim di sana. Dengan bejibunnya aneka minuman dan makanan berlimpah. Terbiasa menikmati setiap yang ada tanpa halangan apapun. Lalu mendengar sebuah aktivitas yang dilakukan mulai jam 4 pagi hingga 6 sore. Selama 14 jam tidak makan dan minum. Bahkan setetes air pun. Apakah tidak terdengar aneh dan luar biasa?

Tak perlu jauh-jauh, mungkin di lingkungan kita. Sebuah keluarga muslim kaya raya, bergelimang harta, dan pendidikan agama kurang. Yang hampir tidak pernah berpuasa sepanjang tahun—selain bulan Ramadhan saja. Yang berpuasa karena Ramadhan adalah sebuah kewajiban atas konsekwensinya memeluk agama ini. Ada banyak bukan? Bagi mereka, puasa adalah ibadah luar biasa dan hebat. Mereka telah melakukan sebuah hal hebat di hari puasa itu.

Tak heran, apabila saat berbuka menjadi saat yang paling istimewa. Bermacam hidangan serba enak dan lezat pun disediakan—bahkan sejak siang. Beraneka lauk-pauk, daging, ayam, buah-buahan, minuman segar, semuanya dikeluarkan. Semuanya ditelan dengan lahapnya.

Puasa bukan pelampiasan. Ia adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukankah tiap berbuka kita selalu “laporan” ke Allah; “Ya Allah, telah kuselesaikan puasaku hari ini hanya untuk-MU. Kepada-Mu aku beriman. Dengan rezeki yang Kau berikan lah, aku berbuka…”

Saat berbuka adalah saat paling tepat. Menunjukkan bahwa kita adalah hamba-Nya yang beriman. Bukan saat berbalas dendam setelah (seakan) seharian dicegah melakukan berbagai hal biasa di luar Ramadhan.

Saat berbuka juga bukan sarana memberi hadiah pada diri. Ya, hadiah istimewa. Bukankah kita telah melakukan sesuatu yang istimewa dengan menahan aneka makanan dan minuman (hal yang mudah kita peroleh) seharian penuh? Bukankah hal yang wajar kalau kita memberikan sedikit hadiah pada diri kita dengan berbagai macam makanan lezat dan minuman menyegarkan?

Ternyata bukan. Berbuka adalah sarana untuk merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang mungkin harus menunggu sekian jam setiap hari untuk dapat merasakan sebungkus nasi dengan lauk sekadarnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Juli 2013 in Ramadhan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: