RSS

Suami Bu Lurah

11 Mei

Orangnya tegap dan tinggi. Saat masuk ke rumahnya, saya ditemui di ruang tamu. Letaknya di bagian tengah rumah. Bukan di depan—seperti lazimnya rumah di Jawa. Ruang tamunya luas. Sofa empuk terletak di bagian tengah ruangan besar itu beserta meja kecil di tengahnya. Di sisi-sisi ruangan, berjajar beberapa almari. Ada yang besar dan kecil. Mungkin itu almari si bapak, istri dan dua anaknya. Di sisi lainnya tampak kompor gas dan kasur besar. Bisa jadi, itu ruang tamu merangkap dapur dan kebutuhan lainnya, pikir saya.

Menurut teman saya, dia orang berpengaruh di desa itu. Dia bilang A, penduduk akan ikut A. Dia bilang Z, penduduk juga bilang Z. Pokoknya, apa kata dia saja. Andaikan dia mau mengajak demo warga desa untuk menutup akses ke tambang, dia juga bisa melakukannya. Bila perlu, jalan kekerasan pun tak segan-segan dia tempuh.

“Satu bulan pun saya bisa ajak demo warga. Bahkan, sampai B***u C**l ditutup pun bisa,” ujarnya bersemangat. Saya hanya tersenyum—memberinya semangat bercerita lebih banyak.

“Tapi, kita juga mengerti. Gak perlu gitu-gitu. Berapa sih duitnya?! Kalau mau, saya langsung minta aja ke perusahaan,” katanya lebih lanjut.

Teman saya mengenalkan kepadanya bahawa saya dari perusahaan O bagian Comdev. Saya tidak mengiyakannya. Sang Bapak lalu bercerita lebih lanjut tentang berbagai program Comdev yang dilakukan perusahaan-perusahaan tambang di sekitar desa itu. Dan, inilah bagian yang saya suka dari pemikirannya.

“Untuk program comdev, gak usah banyak nawarin warga. Gak usah banyak tanya ke mereka,” sarannya. Sebetulnya, ini kurang sesuai dengan prinsip-prinsip comdev yang saya dapatkan saat training di Bandung beberapa waktu lalu.

“Apapun, pasti akan diminta mereka. Bahkan, andai perut bapak bisa diminta, akan dimintanya juga,” katanya penuh keyakinan. “Dulu, sudah apa aja itu program diberikan. Kambing, ayam, dan sapi, semuanya habis dijualin.”

“Yang berhasil di sini itu ya program bantuan ketinting (perahu kecil),” ceritanya. “Dulu, kita diberi modal perusahaan untuk membeli 6 ketinting. Mereka yang mendapat jatah diminta nyicil pembayaran ketinting. Setelah cukup untuk membeli baru, kita belikan ketinting baru. Dan dikasih ke warga lainnya. Begitu seterusnya sampai sekarang sudah 26 ketinting.”

Perlu diketahui, dari mess ke lokasi tambang, para pekerja harus menyeberangi sungai yang lumayan lebar. Transportasi utama mereka adalah ketinting (perahu kecil) dan speed boat. Itulah mata pencaharian masyarakat sekitar sungai tersebut.

“Jadi, kalau mau ngasi warg sini, kasi aja yang paling dibutuhkan mereka. Bibit padi, pupuk, atau racun pestisida. Gitu saja sudah beres,” jelasnya.

*Catatan perjalanan di Bumi Borneo.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2013 in Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: