RSS

Mahalnya Makanan di Berau

03 Mei

Awal-awal datang, lidah saya belum bisa nyetel dengan masakan sini. Terutama masakan yang disediakan di mess tempat menginap saya. Apalagi pas ketemu menu nasi uduk. Bayangkan aja sendiri nasi uduk khas masakan padang. Dominan bumbu masakan padangnya.

Di Bekasi, saya hampir tidak pernah sok “gaya” makan di seafood. Tapi, di Berau sini perut lapar dan minta diisi makanan. Saya pun beberapa kali mencoba makanan di warung dengan tulisan “sari laut”. Tentu saja yang menyediakan berbagai olahan makanan khas laut. Mulai dari ikan bakar, kepiting, udang, dan cumi-cumi.

Saya makan bertiga di warung makan sari laut. Menunya; kakap goreng, baronang bakar, dan bawal bakar. Plus minum es teh dan 2 bungkus kerupuk. Mau tau harganya? Rp.103.000,- Harga yang cukup mahal menurut saya. Tapi, coba bandingkan harga makanan seafood itu dengan makanan lainnya yang ada di sini.

Di warung yang lain saya makan berdua dengan sopir. Menunya; nasi campur dan ayam bakar. Ditambah es teh manis, sebungkus kerupuk dan sebungkus rempeyek. Mau tau harganya? Rp.57.000,-

Pada malam berikutnya, saya makan sendirian. Kali ini ke warung tenda seafood “Orang Tuban”. Entah kenapa ia menyebutnya warung orang Tuban. Mungkin pemiliknya asal Tuban. Yang pasti, saat saya bicara dengan bahasa Jawa, si penjual pun menjawabnya dengan bahasa yang sama. Kali ini saya memesan seporsi kepiting saus tiram. Ditambah minum es teh manis. Harganya Rp.43.000,-

Saat sarapan, saya membeli nasi kuning yang banyak dijual di pinggiran jalan saat pagi hari. Nasi kuning sebungkus dengan lauk mie kuning, tempe oreg, dan sepotong kecil ikan (entah ikan apa), saya beli dari penjual aneka gorengan yang juga menjual nasi kuning. Harganya Rp.10.000,- Rasanya? Tidak terlalu membuat saya lahap, tapi dasarnya lapar ya habis aja pagi itu. Hehehe…

Ketika sedang menunggu teman di pasar dekat dermaga teluk Bayur, ada penjual bakso Arema yang melintas. Kebetulan cuaca sedang gerimis. Waktu yang tepat untuk menyantap bakso. Rupanya, orang Jawa juga yang jualan. Asalnya, Ponorogo. Pernah jualan di Medan. Jualan di Medan, seporsi bakso harganya 8ribu rupiah. Kalau di Berau ini, harganya 10ribu. Mantablah siang bergerimis itu dengan menyantab bakso hangat.

Ada juga penjual siomay khas Bandung. Disandingkan dengan es campur khas Bandung. Mereka menyebutnya Es Oyen. Isinya sederhana; es batu parut, kelapa muda+air kelapa, kue hongkwe cacah, dan air gula ditambah susu Carnation. Rasa esnya mantab. Kalo Siomay-nya jauh di bawah standard yang biasa saya temukan di Jakarta. Harga siomay: 10ribu dan harga Es Oyen: 8ribu.

Siang, sepulang survei dari desa Tasuk di seberang dermaga, saya mampir ke warung gado-gado spesial udang. Tiga porsi dengan tambahan 2 bungkus kerupuk dan minum es teh manis, harga Rp.107.000,- Tentang gado-gado ini bisa dibaca di catatan saya lainnya di blog ini.

*Catatan perjalanan di Bumi Borneo

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Mei 2013 in Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: