RSS

Mencetak Petani Jamur [2]

18 Apr

Pak Widya lalu berpikir ulang. Apa hal yang bisa dilakukannya bagi masyarakat, sementara masyarakat yang menuntut pekerjaan ke perusahaan semakin banyak. Artinya, makin banyak usia produktif yang belum mendapatkan pekerjaan. Pak Widya lalu menanyakan kepada kepala desa; data warga desa usia produktif (lulusan SMA, misalnya) yang belum mendapatkan pekerjaan.

Setelah data didapat, Pak Widya memetakan potensi mereka satu persatu. Belajar dari pengalaman sebelumnya saat program peternakan kambing, Pak Widya tidak langsung membentuk beberapa kelompok untuk memulai ide usaha barunya. Kebetulan, dia punya akses ke para pembudidaya jamur merang di daerah Madiun.

Setelah melalui pemilahan data, dipilihnya 3 orang potensial yang akan dijadikannya sebagai pemicu program pembudidayaan jamur merang di masa depan. Tiga orang tersebut dikirimnya ke pusat budidaya jamur merang di Madiun. Selama beberapa hari mereka ditraining untuk mempelajari tekniknya. Mereka pun pulang untuk melanjutkan rencana besar membudidayakan jamur merang di daerah Tuban.

Gubuk Sisa Kandang Sapi

Persoalan muncul saat kelompok (3 orang) tersebut membutuhkan gubuk khusus untuk tempat budidaya jamur. Kebetulan, rata-rata warga di desa itu memelihara sapi. Umumnya, kandang sapi berukuran besar. Sebagian ruangan digunakan sebagai kandang sapi dan sebagiannya dibuat menyimpan damen (pohon padi kering—untuk stok makanan sapi).

Damen kamu itu taruh di luar aja?” saran Pak Widya pada salah satu anggota kelompok yang mempunyai kandang sapi yang lumayan besar.
“Tapi, kalau kepananasan dan kehujanan gimana dong, Pak?” sergah mereka.
“Tenang aja, nanti saya belikan terpal,” ujar Pak Widya memberi solusi.

Tersedialah sebuah gubuk/ruangan untuk meletakkan calon bibit-bibit jamur mereka. Kini tinggal menyekat kandang tersebut dan menutup bagian kanan kiri kandang. Kebetulan lagi, salah satu anggota punya banyak pohon bambu. Mereka gotong royong memotong bambu dan membangun gubuk untuk baglog. Jadilah sebuah gubuk tempat baglog jamur mereka nanti. Bibit jamur dan permodalan diberikan oleh perusahaan UTSG sebagai bagian dari community development.

Hasil Panen Dibagi Tiga

Agar program ini terus berjalan kontinue sesuai tujuan awal, dan masyarakat tidak terus-terusan tergantung kepada perusahaan, Pak Widya mempunyai strategi khusus. Mereka bersepakat, hasil panen akan dibagi menjadi tiga; sepertiga untuk pembudidaya, sepertiga untuk beli bibit baru, dan sepertiga lainnya digunakan sebagai dana untuk membentuk kelompok pembudidaya baru.

Jadi, kelompok induk tersebut diwajibkan membentuk kelompok baru, sehingga diharapkan akan bermunculan banyak pembudidaya jamur baru. Yang mana bila mereka sudah cukup mendapatkan penghasilan dari budidaya jamur tersebut, mereka tidak perlu lagi minta menjadi karyawan di perusahaan semen yang ada di daerahnya.

“Toh, pendapatan mereka dari budidaya jamur sudah menyamai—bahkan ada yang melebihi penghasilan pegawai dari perusahaan,” ujar Pak Widya.

Kemana Menjual Hasil Panen?

Timbul masalah saat panen pertama kali. Masyarakat kembali datang ke Pak Widya soal penjualan jamur panen mereka. “Oh, kemana ya menjual jamur-jamur ini?” tanya Pak Widya pada diri sendiri.
“Akhirnya, terpaksa saya beli saja semua hasil panen mereka menggunakan uang kantong saya sendiri. Saya suruh istri saya di rumah untuk menjadikannya bungkusan-bungkusan berat ½ kg.”

Rupanya, jamur itu laku keras di desa Pak Widya. Bahkan, ibu-ibu yang tidak kebagian jamur terus menanyakannya. Lama-lama saya capek juga tiap hari harus pulang dengan membawa jamur dari desa sekitar kantor. Akhirnya, istri Pak Widya disarankan untuk menitipkan kepada penjual sayur keliling. Dan si penjual sayur pun ditunjukkan langsung ke petaninya.

Lama kelamaan, bukan lagi petani jamur yang kesulitan mencari konsumen. Justru para tengkulak dan pengepul jamur yang datang sendiri ke petani. Untuk sementara masalah distribusi jamur tidak ada masalah bagi mereka. Pak Widya pun mulai bisa tersenyum. (to be continue…)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 April 2013 in Diklat Comdev Minerba

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: