RSS

Orang Kaya Saja Masih Bekerja Keras

13 Feb

Sore itu, usai jam pulang kerja saya berbincang dengan karyawan bengkel tetangga kantor. Orang Jawa, usianya juga masih terbilang muda. Belum sampai 30an lah. Kami berbincang soal pekerjaannya dan usahanya.

Ia bercerita tentang aktivitasnya di luar pekerjaan tetapnya sebagai karyawan bengkel. Awalnya, karena merasa gaji yang diperoleh tidak mencukupi. Tidak mau terus-terusan mengeluh dan menunggu kenaikan gaji, Dia lalu membuka warung pecel lele di dekat kontakannya tinggal. Kebetulan lokasinya dekat pabrik. Biasanya sepulang dari kerja di bengkel ini, dia ikut bekerja lagi menunggu warung pecel lele itu. Padahal, jarak tempuh dari kantornya di kawasan Harapan Indah ke Cileungsi Bogor lumayan. Bisa satu jam perjalanan. Kalau sedang macet, bisa bertambah.

Ia membuka warungnya ditemani istrinya dan dibantu seorang karyawan. Biasanya sekitar jam 12-1 dini hari warung baru tutup. Pagi hari sekitar jam 6 ia bangun. Usai shalat, ia berangkat ke pasar untuk berbelanja kebutuhan warung hari itu. Barulah setelah itu ia berangkat ke kantornya. Semuanya dijalaninya dengan penuh semangat.

“Ya, daripada saya pulang kerja juga mau ngapain di rumah, Pak?” katanya pada saya.
“Paling ya nonton tivi. Mending kan buka warung, dapat penghasilan tambahan.” lebih lanjut ia menerangkan.

Apa gak capek, saya tanya.
“Awal-awalnya juga capek, Pak. Tapi, lama-kelamaan juga terasa biasa. Enak-enak saja.”

Dalam cerita berikutnya, ia mempunyai banyak cita-cita. Rencananya, bulan depan ia hendak membuka 1 lagi warung bakso dan mie ayam. Kebetulan, saat ini ia sedang mengincar sebuah lokasi yang tak jauh dari tempatnya tinggal pula sebagai calon warung bakso dan mie ayamn-nya.

Lalu, berapa omsetnya tiap malam? selidik saya.
“Kalau cuaca sedang cerah begini, enak Pak Kholid. Minimal semalam saya bisa dapat 500 ribu. Yaaa, kalau bersihnya sich minimal 100 ribu lah…” jelasnya, lalu merinci penjualan potongan ayam dan lele.

Lumayan juga, pikir saya. Kalau setiap hari 100 ribu bersih, berarti sebulan minimal ia dapat 3 juta dari pecel lele itu. Pendapatan yang jauh melebihi standar gaji karyawan di penerbitan yang dulu pernah saya geluti–yang tentu saja membutuhkan bekal keilmuan yang jauh lebih tinggi dan mumpuni.

Terus, apa yang membuat sampean begitu semangat seperti itu?
“Saya sich mikirnya, orang-orang kaya itu walaupun duitnya ribuan kali lebih banyak dari duit saya, mereka tetap bekerja keras hingga larut malam. Termasuk bos saya.” jelasnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Februari 2013 in Catatan Harian, Dunia Kerja

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: