RSS

Anak, Investasi Kebaikan Akhirat

09 Feb

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mukaddimah

Ibu-ibu hadirin yang dirahmati Allah…

Ada sebuah hadits, yang saaaaangat kita kenal. Bisa dibilang hampir semua orang menghafalnya. Atau minimal, pernah mendengarnya. Hadis itu berkaitan dengan amal yang tidak terputus setelah kita mati. Ada yang tahu ibu2, bagaimana bunyi hadisnya?

Ya, benar…
” إِذَا مَاتَ ابن آدم انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ”
“Apabila anak Adam (manusia) meninggal, terputuslah amal perbuatannya kecuali 3 hal. Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya.”

Dalam hadis tersebut, secara tegas Rasulullah saw menyatakan; bila suatu saat nanti kita meninggal dan dikubur di dalam tanah kuburan, tak ada lagi amalan yang bisa kita dapatkan. Kecuali tiga hal;

Yang pertama, shadaqah jariyah. Poin pertama ini, bisa dibilang peluangnya lebih besar dimiliki oleh orang-orang kaya. Makanya, sabda Nabi “Khoirul Maal, fii yadil Muslim as-Sholih” ‘Harta terbaik adalah harta yang dimiliki seorang muslim yang shalih’. Kenapa? Karena seorang muslim yang shalih tidak akan pelit menginfakkan hartanya untuk kebaikan. Kita yang hartanya pas-pasan mungkin bisa sedikit membantu menyisihkan dari harta kita, atau berperan lewat tenaga kita.

Shadaqah jariyah ini bentuknya bermacam-macam. Mulai dari membangun masjid, wakaf tanah untuk mushalla-masjid, nyumbang sekolah, kerja bakti untuk kepentingan agama dan lain sebagainya.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Keistimewaan yang kedua ini dimiliki oleh bapak-ibu guru. Orang-orang yang berilmu. Termasuk ibu2 guru yang mengajar di TK ini. Coba bayangkan, andai ada di antara siswa-siswa TK ini yang kelak saat besar menjadi presiden yang jujur, hakim yang adil, menjadi ulama yang baik, atau menjadi miliarder yang dermawan, kepada siapa kira2 mereka akan berterima kasih? Tentu saja kepada guru-gurunya yang telah mendidik dengan baik, mengajarinya dengan akhlak mulia.

Itulah yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat. Di sinilah, para guru yang berperan dalam kebaikan saat masa kecilnya si anak juga mendapat bagian pahala. Yaaaa, walaupun ibu2 guru tidak ikut menjadi presidennya, tak bisa jadi hakimnya, tak menjadi orang kayanya, tidak pula menjadi ulamanya, insya Allah bapak2 ibu guru juga akan memperoleh pahala atas kebaikan yang bapak-ibu ajarkan kepada anak didik di sewaktu sekolah. Dan, enaknya, pahala itu akan terus mengalir walaupun bapak-ibu guru sudah ada di liang kubur.

Senang tidak ibu-ibu, misalnya saat sudah meninggal; terus tiap hari dapat kiriman pahala atas kebaikan dari murid-muridnya? Senang kan?! Itu andai baru satu murid saja yang menjadi baik karena peran ibu-bapak di sekolah. Coba bayangkan, andai ratusan bahkan ribuan anak-anak yang telah dididik dan semuanya menjadi orang baik??! Subhanallah…. betapa berlimpahnya kiriman pahala yang akan ibu-bapak dapatkan. Insya Allah….

Hal ketiga yang amalnya tidak terputus hingga mati—sesuai hadis Nabi—adalah anak shalih yang selalu mendoakan orangtuanya. Poin ketiga ini bisa menjadi peluang bagi semua orang—yang sudah menikah dan punya anak, tentu saja. Kan tidak ada syarat harus menjadi orang kaya atau menjadi guru untuk memperoleh sumber amal yang tak terputus ini. Anak, ternyata bisa menjadi salah satu investasi besar bagi kehidupan kita kelak setelah mati.

Tapi, ternyata juga ada syarat agar anak itu bisa mendatangkan kiriman pahala dan kebaikan walaupun orangtuanya sudah mati. Yaitu, anak yang shalih dan mendoakan orangtuanya. Nah, untuk mendidik anak menjadi anak yang shalih ini tak semudah kita membalik tangan. Tak cukup “dipondokkan saja deh, nanti juga jadi anak yang baik”. Tidak cukup. Kita perlu banyak belajar mendidik anak. Perlu banyak membaca buku, bertanya pada orang yang mengerti atau mendengarkan ceramah tentang bagaimana cara mendidik anak yang benar.

Bapak-ibu yang dirahmati Allah…

Suatu ketika, saya mendengar seorang ibu2. Tetangga saya yang marah-marah. Anaknya yang masih kecil menangis keras di hadapannya. Tapi, si ibu masih terus saja marah. Rupanya, si ibu marah besar gara-gara piring di dapur pecah. Gara-garanya Si anak tak sengaja menjatuhkan piring tersebut sehingga pecah. Padahal, si anak berniat membantu ibunya mencuci piring tersebut. Mungkin saking emosinya, si ibu masih marah saja hanya gara-gara sebuah piring yang pecah.

Padahal, coba ibu-ibu pikir berapa sih harga satu buah piring? Paling ya gak sampai 10 ribu (atau berapa? Tanya orang2?) ya? Beli lagi juga gak sulit, kan?! Tapi, sadarkah ibu apa dampaknya terhadap anak dari kejadian itu? Ada banyak efek buruk yang akan dipelajari oleh si anak.

Pertama, anak bisa jadi akan menyimpulkan begini, “Ohhh… Mama itu kalau tidak suka sesuatu, cara mengungkapkannya dengan marah-marah ya.” Dampaknya, ketika si anak tidak suka terhadap suatu perbuatan temannya atau ucapan orangtuanya yang memberi nasihat, si anak justru akan marah-marah kepada temannya atau orangtuanya. Secara tidak sadar, ibu tetangga itu telah menanamkan karakter pemarah pada si anak.

Nah, di sinilah seninya mendidik anak. Coba, andai saja si ibu tetangga itu ngomong baik-baik dengan lembut kepada si anak, “Ya sudah, Mas. Gak apa-apa. Mungkin memang masa usia piring itu sudah habis. Sudah waktunya pecah. Nanti kalau ada duit kita beli lagi ya. Lain kali Mas hati-hati ya kalau bawa sesuatu.” Kira-kira, apa efeknya terhadap anak? Apa yang dipelajari anak dari sikap ibu yang seperti ini? Pastinya, akan jaaauh berbeda dibanding marah-marah.

Kisah yang hampir sama pernah dialami Rasulullah. Saat Rasulullah saw sedang menggendong anak kecil. Tiba-tiba si anak pipis saat di gendongan Rasulullah. Si ibu, karena malu atau tidak enak hati, langsung bergerak cepat hendak mengambil si anak. Tapi, Rasulullah mencegahnya. Apa sabda Nabi kepada si ibu, “Sakit hati akibat sikap kasar ibu tidak akan hilang seumur hidupnya. Biarkan saja dia di gendonganku, hingga dia merasa tenang dan puas.”

Kejadian lainnya, suatu ketika di masjid Nabawi datanglah seorang arab pedalaman (baduilah-kita menyebutnya) ke dalam masjid. Tanpa merasa bersalah dia langsung buang air kecil di sudut belakang masjid. Jangan samakan masjid Nabawi sekarang dengan zaman dulu, ya. Kalau zaman dulu, tak ada ubin. Hanya tanah dan pasir. Sehingga air kencing bisa langsung meresap. Seketika itu, beberapa orang sahabat langsung berdiri dan hendak menyeret keluar orang tersebut.

Rasulullah saw mencegah mereka. Kata beliau, “Biarkan saja dia hingga selesai dan puas. Setelah itu, ambillah seember air dan siramkan ke bekas kencingnya.” Memang benar, orang badui itu salah, tapi Rasulullah saw tidak serta merta melarangnya. Beliau dengan bijaksana mengajarkan bagaimana bersikap yang tepat sesuai situasi dan kondisi. Entah, apa jadinya jika orang badui itu langsung diseret keluar saat belum selesai hajatnya. Mungkin dia akan marah dan menuduh Islam sebagai agama yang keras, kasar, tidak berbelas kasih.

Kembali pada pelajaran yang mungkin akan dipetik si anak dari interaksinya dengan ibunya. Poin kedua, bisa jadi anak akan hilang inisiatifnya dalam berbuat baik dan membantu orangtuanya. Karena trauma atas kejadian tersebut. Sedikit-sedikit, ia menjadi khawatir, takut dan was-was. Jangan-jangan salah… jangan-jangan nanti dimarahi lagi. Pengen gak kita punya anak seperti itu, ibu-ibu?

Bapak Ibu yang dirahmati Allah…

Banyak sekali orangtua yang mengeluhkan anaknya yang nakal. Beberapa tingkah polah yang sering dikeluhkan orangtua antara lain: anaknya suka bermain dan sulit disuruh belajar, anaknya suka menggoda kakaknya, anaknya sering berantem dengan anak tetangga, atau anaknya sulit diberitahu.

Dalam hati saya merenung, apakah anak-anak tersebut memang anak-anak nakal? Apakah dengan perilaku-perilaku tersebut, mereka sudah dapat dilabeli anak nakal? Apakah tidak ada peran bagi orang tua terhadap munculnya perilaku-perilaku tersebut?

Padahal, kalo dipikir-pikir ya…
Bagi anaknya yang bermain terus dan sulit disuruh belajar. Bermain adalah hadiah alam yang berharga untuk putra dan putri kita. Bermain merupakan alat canggih yang memungkinkan seorang anak untuk masuk dalam sebuah kegiatan yang paling serius, penting dan paling mengundang minat. Alam secara bijaksana telah mengizinkan otak anak yang sedang berkembang untuk mengeksplorasi, mengalami, mencoba, dan bermain dengan pilihan-pilihan perilaku yang tak terbatas.

Mari kita mencoba mengingat kembali saat kita bermain bersama teman-teman sekolah dasar. Apakah kita merindukan masa-masa itu? Mengapa? Jenis permainan apa yang kita mainkan? Apakah yang telah kita pelajari dari permainan itu? Apakah saat itu kita menunggu datangnya waktu bermain? Apakah saat ini kita masih mendambakan untuk bermain kembali?

Kegiatan bermain dapat meningkatkan ketrampilan motorik kasar dan halus, serta meningkatkan perkembangan semua indera. Saat bermain pula, anak melatih dirinya untuk memecahkan masalah karena ia menggunakan seluruh daya pikir dan imajinasinya. Ketika anak melakukan aktivitas permainan, anak belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicaranyadan belajar tentang nilai sosial, dan belajar memberi dan menerima.

Jadi, kira-kira masih tepatkah menyebut anak yang suka bermain itu disebut anak nakal?

Bapak ibu yang dirahmati Allah…

Satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa anak belajar nakal itu dari orangtua. Saya ingat sebuah hadis Rasulullah saw, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Jadi, kira-kira siapa yang menjadikan si anak itu punya sikap dan karakter tertentu, kira-kira siapa yang membuat anak punya kecenderungan pada hal-hal tertentu? Jawabnya, tentu saja orangtuanya. Ingat kata-kata mutiara ini: anak mungkin gagal mengikuti kata-kata kita. Tapi, ia tidak pernah gagal meniru perilaku kita.

Jadi, kalau kita menginginkan anak kita rajin ke masjid, maka orang tua haruslah menjadi orang terdepan menjadi contoh baginya. Kalau kita menginginkan anak yang gemar membaca buku, maka orang tuanya harus menjadi teladan pertama kebiasaan membaca dalam keluarganya. Kalau kita menginginkan anak yang rajin dan tidak gemar nonton tv, ya orangtuanya jangan ngajari nonton tv atau sinetron—sampai lupa waktu. Begitu seterusnya.

Bapak ibu yang dirahmati Allah…

Sebenarnya banyak hal yang ingin saya sampaikan terkait kenakalan anak ini dan bagaimana mengatasinya. Namun, waktu tidak mengizinkan saya untuk berbicara lebih banyak. Mungkin bapak-ibu bisa menyimak sendiri lewat tulisan yang diberikan panitia.

Demikian sekadar berbagi pengetahuan dari saya. Saya yakin bapak-ibu lebih berpengalaman dari saya. Maka, saya mengharapkan masukan dan pengalaman dari bapak-ibu saat mendidik anak. Agar saya bisa terus belajar dan belajar. Terima kasih semuanya. Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun. Waj’alna lil muttaqiina imaama. Amin…
Wassalamu’alaikum wr. Wb.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in Kultum

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: