RSS

Mensyukuri Nikmat Iman

27 Jan

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah…

Ada kisah menarik tentang salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Bilal bin Rabah namanya. Beliau adalah muadzin di masjid yang mulia, Masjid Nabawi. Sebagaimana umumnya orang Afrika, Bilal ini berkulit hitam, badannya tinggi dan besar. Pada mulanya, ia adalah budak milik seorang bangsawan Mekah, Umayyah bin Khalaf. Dalam sejarah Islam, sahabat Bilal ini termasuk salah seorang yang mula-mula masuk Islam.

Yang menarik disimak adalah kisah bagaimana sahabat Bilal ini mempertahankan akidah Islamnya.

Dalam buku sejarah dikisahkan; orang-orang kafir tidak suka budaknya yang bernama Bilal itu masuk Islam. Mereka selalu menyiksa Bilal dengan cara menjemurnya di tengah padang pasir saat terik matahari. Ibu-ibu bisa bayangkan, Madiun saja yang kalau musim panas, terasa begitu panasnya khan? Lha ini, apalagi di Arab sana yang hampir tak ada musim hujan seperti di Indonesia. Tentunya, jaaauh lebih panas.

Orang-orang kafir melemparkan Bilal dengan bertelanjang di atas padang pasir yang panas. Kemudian meletakkan batu yang sangat besar di atas dadanya. Penyiksaan kejam ini terus berulang setiap hari. Namun, sahabat Bilal tetap teguh memeluk agama Islam. Beliau tidak mau melepaskan keyakinannya terhadap agama Islam.

Majikannya, Umayah bin Kholaf berkata kepadanya, “Kau akan terus seperti ini hingga mati atau kau tinggalkan Muhammad, dan kembali menyembah Latta dan Uzza.” Namun Bilal tetap bersikukuh dan hanya menjawab, “Ahad, Ahad”.

Ibu-ibu sekalian yang dirahmati Allah…
Tak sampai di situ, para pemuka Quraisy juga menyuruh anak-anak mereka untuk berkeliling mengarak Bilal di jalan-jalan kota Mekkah sambil bersorak-sorak. Tujuannya, untuk memberikan pelajaran kepada siapa yang berani mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Namun, Bilal tetap teguh dengan agamanya. Ia hanya merintih “Ahad, Ahad”. Umayah semakin marah dan menyiksanya dengan lebih kejam.

Pada akhirnya, Bilal pun dibeli oleh sahabat Abu Bakar lalu dibebaskan.

Nah, ibu-ibu… Pelajaran apakah yang bisa kita petik dari kisah sahabat Bilal ini? Salah satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya adalah keteguhan Bilal dalam memegang agama Islam, walaupun siksaan, rasa sakit, ujian, bencana, dan musibah menimpa.

Coba kita pikirkan. Kalau dirasa-rasa, kita hidup di Indonesia ini, sangaaat enak. Untuk memeluk agama Islam dan menjalankan perintah Allah, kita tak perlu mengalami ujian dan siksaan terlebih dulu macam sahabat Bilal. Atau tak perlu mengalami siksaan dan ancaman seperti yang dialami saudara-saudara kita di Rohingya, Myanmar. Di mana mereka harus dibantai dengan cara dibakar hidup-hidup, karena hidup sebagai minoritas yang beragama Islam.

Kita juga tak perlu susah-susah mencari tempat shalat seperti yang dialami sebagian saudara-saudara kita di Eropa atau Amerika sana. Hanya tinggal keluar rumah, dengan mudah kita temui masjid atau musholla… Alhamdulillah…

Ibu-ibu yang dirahmati Allah….
Kita patut bersyukur atas pemberian anugerah terbesar dalam hidup ini; yakni nikmat iman dan Islam. Karena, faktanya tidak semua orang dilahirkan sebagai umat Islam. Juga, tidak semua orang beriman kepada Allah. Bahkan, orang yang pintar pun tidak dijamin bahwa ia beriman. Sebagai contoh, para misionaris Kristen. Mereka itu banyak mempelajari agama Islam, bahkan ada pula yang hafal Al-Quran, tapi tak ada sedikit pun keimanan di dalam hati mereka. Mereka belajar Islam hanya untuk mencari strategi menghancurkan Islam.

Nah, bagaimanakah caranya kita mensyukuri nikmat iman dan Islam ini? Ada yang tahu ibu-ibu, bagaimana caranya? Ya, tentu saja dengan cara memelihara dan memupuk iman dan islam kita ini.
Pertanyaannya, bagaimana cara memupuk dan memlihara keimanan itu?

Minimal ada 3 hal yang bisa kita lakukan.
Pertama, menjaga shalat lima waktu. Rasulullah saw bersabda, “Awwalu Maa Yuhasabu Indallahi Yaumal Qiyamah as-Shalaah.” Besok, pada hari Kiamat, Amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat. Apabila shalat seseorang baik, insya Allah amalan-amalan yang lain juga baik. Sehingga mudahlah ia masuk ke surganya Allah SWT. Nah, saat Hari Kiamat itulah, shalat lima waktu yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan menjadi modal kita saat menghadapi perhitungan di padang mahsyar.

Kedua, menjadi anak yang shalih. Salah satu ciri anak yang shalih adalah selalu mendoakan dan berbuat baik kepada orangtuanya. Baik orangtuanya masih hidup ataupun sudah meninggal. Nah, apakah anak yang shalih ini hanya terbatas pada anak-anak kecil saja? Tidak. Menjadi anak shalih juga berlaku bagi orang dewasa yang mungkin sudah punya banyak anak—bahkan cucu.

Ketiga, berbuat baik kepada keluarga dan tetangga. Rasulullah saw bersabda, “Seseorang itu imannya tidak sempurna apabila tetangganya tidak merasa aman dari perbuatannya.”

Akhirnya, kita selalu berdoa semoga Allah selalu menjaga iman dan Islam ini hingga akhir hayat kita. Sehingga kita kelak kita meninggal dan dikubur dalam keadaan sebagai seorang muslim yang beriman. Amin ya Rabbal alamin…

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamit thariq

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Januari 2013 in Kultum

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: