RSS

Jidat Hitam, Tanda Keimanan? [Tulisan 1]

07 Nov

Dewasa ini, banyak orang yang menganggap bahwa salah satu ciri keimanan seseorang adalah jidatnya yang menghitam. Ciri itu didapatkan dari seringnya bersujud. Orang lalu berupaya bagaimana supaya di jidatnya ada “sesuatu”. Semakin hitam jidatnya, semakin beriman-lah seseorang itu dikatakan. Hal ini didasarkan pada pemahaman sempit ayat di akhir surah Al-Fath:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي
وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al-Fath:29).
Biar tidak semakin terjerumus dalam pemahaman yang salah, saya mengajak pembaca untuk belajar lebih dalam tentang kitab suci kita. Karena, bila pemahaman sempit di atas diklaim sebagai pendapat yang paling shahih, bisa-bisa kita akan menilai seorang ulama, kiai, hanya dari tampilan hitam di dahinya. Lewat tulisan ini, saya hendak memulai mengecek apa pendapat para ahli tafsir tentang maksud ayat tersebut.
Saya mulai dari salah satu kitab rujukan para ulama; Tafsir ath-Thabari.
Imam ath-Thabari menyatakan: maksudnya ciri-ciri mereka terlihat dari wajah mereka, disebabkan oleh sujud dalam shalatnya. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud ayat ini.
Pendapatnya sebagai berikut:
1. Tanda yang Allah berikan kepada (khusus) kepada kaum beriman di hari Kiamat. Mereka itu diketahui lewat ciri tersebut, dan itu disebabkan oleh sujud (dalam shalat) yang mereka kerjakan di dunia. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Khalid al-Hanafi, Athiyyah, Muqatil bin Hayyan ( :Cahaya di hari Kiamat), dan Hasan Bisti.
2. Tanda keislaman, tampak di dunia. Tanda itu adalah pancaran kekhusyukan, kebaikan dan sikap tawadhu’. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Mujahid.
3. Bekas sujud (di jidat) yang tampat di antara kedua mata.
4. Pancaran “sesuatu” yang berbeda. Sebagaimana pancaran kelelahan dan wajah kusut yang kita lihat pada seseorang yang semalaman begadang.
5. Sisa-sisa debu yang menempel di dahi. Pendapat dari Said bin Jubair dan Ikrimah.
[Tafsir ath-Thabari: 22/261-265]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 November 2012 in Fikih, Hadis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Pendidikan Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan

Berbagi Ide sebagai Penonton

Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

RONIta Digital Printing

Creative Printing Specialist

%d blogger menyukai ini: