RSS

Khutbah Jumat Bahasa Jawa; Pelajaran Haji untuk Kehidupa

Khutbah I

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ. وقال أيضًا: إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ، فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Wonten ing kesempatan meniko, monggo sareng2 kitho panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT ingkang sampun paring nikmat lan kesehatan sehingga kitha tergerak untuk berangkat ke masjid mengikuti kewajiban melaksanakan shalat Jumat.

Tanpa nikmat dan peparing Gusti Allah, bisa jadi hati kitha mboten tergerak sama sekali untuk berangkat ke masjid menghadiri shalat Jumat. Di luar sana, mungkin kathah tiyang ingkang luwih sehat dan luwih berkecukupan kehidupannya, ananing dengan enteng dan tanpa merasa dosa meninggalkan kegiatan Jumatan meniko. Read the rest of this entry »

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Juli 2019 in Khutbah

 

Materi Ceramah Walimah Safar Haji

WALIMATUS SAFAR

 

Poro hadirin…

Lha dospundi supoyo seseorang bisa berangkat

  1. Kedah gadah krentek seng bapoh

Wong nek krenteke bapoh biasane direwangi soro tenanan, saben nglakoni penggawean diniati gawe sangu budal haji. Njejeg jahit niat budal haji, nyetrip niat budal haji, dll

Umpomo mboten gadah krentek paling urip yo enak2an. Coro mergawe yo nyuuuantai soale mboten gadah roso pengen.

 

  1. Kudu nduwe bondo, katah tunggale tiang berngkat ngedol tahan sak kedok rong kedok, dodol sapi nggeh katah contohe.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Juni 2019 in Catatan Harian, Khutbah, Kultum

 

Khutbah Jumat Bahasa Jawa; Teladan Rekonsiliasi dari Nabi saw.

Teladan Rekonsiliasi dari Nabi saw

 

Khutbah I

 

الحَمْدُ للهِ الّذِي خَلَقَ الخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ، وَأَمَرَهُمْ بِتَوْحِيْدِهِ وَطَاعَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَكْمَلُ الخَلْقِ عُبُودِيَّةً للهِ، وَأَعْظَمَهُمْ طَاعَةً لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ

 اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا.

 

Ayyuhal mukminun yarhamukumullah,

 

Wonten ing kesempatan meniko, izinkan khatib berwasiat; khususipun dateng pribadi khatib lan umumipun kangge sedoyo jamaah jumat meniko. Supados kitho senantiasa berupaya memperbaiki keimanan dan ningkataken kualitas ketakwaan kita dateng Allah SWT, dengan cara berusaha menjalankan perinta-perintah ipun Allah lan nebihi sedoyo larangan-larangani pun Allah SWT.

 

Ingkang kedua, monggo sareng-sareng kitha menunjukkan roso cinta kitho kepada Baginda Rasulullah saw dengan cara ngemalaken tuntunan lan ajarkan ingkang sampun beliau contohkan.

 

Ma’asyiral Muslimin ingkang dimuliakan Allah,

 

Wonten sebuah kisah ingkang patut kitho renungkan.

Dahulu, kira-kira lima tahun sebelum Kanjeng Rasulullah saw diutus sebagai rasul, bangunan Ka’bah dipun direnovasi. Penyebab renovasi meniko keranten bangunan Ka’bah sampun tua dan rapuh. Sejak dibangun wonten ing zaman Nabi Ibrahim saw dengan dibantu putranipun, Nabiyullah Ismail as, Ka’bah belum sekalipun dipugar.

 

Wonten sekian banyak riwayat ingkang jelasaken alasan pemugaran meniko. Dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah (2/339) karya Imam Ibnu Katsir, dipun sebutkan beleh kerusakan bangunan Ka’bah meniko disebabkan banjir bandang ingkang menimpa kota Mekah.

 

Singkat cerita,

Masyarakat bahu membahu. Bersatu membangun Ka’bah dengan bangunan baru. Ananging, terjadi pertentangan sengit di kalangan para pemuka kabilah Arab waktu sak monten. Mereka berseteru soal sinten tiyang ingkang paling berhak meletakkan kembali hajar Aswad ke tempat semula. Setiap kepala suku merasa piyambak e tiyang ingkang paaaling pantes meletakkan Hajar Aswad ke bangunan Ka’bah.

 

Saking kerasnya pertentangan meniko, bahkan, hampir terjadi saling bunuh membunuh.

Kangge menghindari pertumpahan darah, para pemuka kabilah bersepakat: bahwa ingkang paling berhak meletakkan Hajar Aswad inggih meniko orang yang pertama kali masuk ke area Ka’bah besok pagilah.

 

Tak disangka, ternyata Baginda Rasulullah saw ialah ingkang pertama ingkang masuk ke area Ka’bah. Berdasarkan kesepakatan sebelumnya, mongko ditunjuklah Baginda Nabi Muhammad saw sebagai orang yang meletakkan kembali Hajar Aswad ke dinding Ka’bah.

 

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah…

 

Ingkang mengejutkan, mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar aswad, Baginda Nabi Muhammad semestinya saget langsung meletakkan batu meniko ke tempatnya. Ananging, Beliau malah membeberkan kain lebar, lalu diletakkanlah Hajar Aswad wonten ing tengah kain meniko. Kemudian beliau mempersilakan perwakilan saking sedoyo kabilah untuk memegang tepi kain dan mengangkat Hajar Aswad secara bersama-sama.

 

Peristiwa meniko adalah sebuah teladan rekonsiliasi (utawi al-ishlah) ingkang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. Hasilnya, perselisihan lan pertikaian ingkang sempat terjadi sengit di kalangan kabilah dan suku pun menghilang. Perseteruan ingkang sebelumnya mengancam rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan masyarakat Arab Mekah pun seketika mereda.

Masyarakat kembali bersatu bahu-membahu meramaikan lan merawat Ka’bah.

 

Ma’asyiral Muslimimin rahimakumullah…

 

Kisah masa muda Nabi Muhammad saw meniko memberikan teladan kangge kitho sedoyo agar saget dados rekonsiliator utawi pemersatu pertikaian lan konflik ingkang terjadi wonten di sekitar. Baik pertikaian antar desa, antar kota, utawi antar anggota keluarga.

Sikap Baginda Nabi Muhammad saw meniko sejalan kaleyan pesan Al-Qur’an ingkang sangat menganjurkan jalan perdamaian dalam penyelesaian konflik. Misalnya, disebutkan wonten ing Surah al-Hujarat 9-10:

 

 وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

 

 

Ayat sak lajengipun menyebutkan;

 

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

 

Ayat meniko dengan jelas memerintahkan kitha untuk membantu mewujudkan rekonsiliasi utawi perdamaian ketika wonten dua kelompok, dua suku, atau bahkan dua keluarga ingkang saling bertikai.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah….

 

Teladan Baginda Rasulullah saw saking kisah peletakan hajar aswad di atas menunjukkan fakta :

 

Bahwa Baginda Rasulullah saw merupakan sosok ingkang cerdas lan nggadahi ide cemerlang sejak usia muda. Sejarah mencatat, peristiwa peletakan hajar aswad, terjadi ketika Nabi Muhammad saw masih berusia sekitar 35 tahun. Usia ingkang terbilang cukup muda–walaupun ing waktu sak meniko beliau dereng diangkat sebagai Nabi. Lewat keputusan meniko, beliau nderek berperan besar dalam masyarakat kangge menghindari pertumpahan darah akibat pertentangan di kalangan sesama arab.

 

Rekonsiliasi lan perdamaian meniko hendaknya saget kita praktikkan wonten konteks zaman meniko. Betapa kita saksikan di masyarakat , urusan politik lan pemilihan presiden telah dadosaken masyarakat terpecah. Perbedaan pilihan telah menimbulkan polarisasi di kalangan masyarakat. Hal meniko bahkan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Keranten meniko sebagai menungso ingkang ngaku dados umate Kanjeng Nabi Muhammad saw, sudah sepatutnya kitha saget mengambil peran kangge menyatukan lan mendamaikan masyarakat. Mboten sebaliknya, malah menebar kebencian lan permusuhan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah…

 

Perbedaan pandangan lan pemikiran, meniko sesungguhnya sampun dados sunnatullah. Sampun dados bagian tak terpisahkan saking kehidupan manusia. Sebagaimana sampun dipun firmankan Allah SWT wonten ing surah Hud : 118:

 

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً‌ وَّلَا يَزَالُوۡنَ مُخۡتَلِفِيۡنَۙ

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

 

Ayat meniko menunjukkan bahwa Gusti Allah sengaja menjadikan manusia berbeda-beda. Wonten ingkang iman, wonten ingkang kufur. Wonten ingkang sae, wonten ingkang buruk. Wonten ingkang beruntung, lan wonten gagal. Tugas kita sebagai umat muslim, ingkang disebut sebagai umat terbaik inggih meniko;

تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

“amar makruf nahi munkar.”

Mengajak selalu berbuat kebaikan lan mencegah melakukan kemungkaran.

 

Perbedaan di kalangan masyarakat, menawi mboten dikelola dengan baik, mongko ujungipun pasti konflik. Dan, jika sampun berkonflik, yang terjadi inggih meniko kehancuran lan kemelaratan seperti ingkang banyak kita saksikan wonten ing beberapa negara ingkang dilanda peperangan akibat konflik yang tak berkesudahan.

Dalam ayat sebelumnya Allah SWT menjamin mboten bakal menghancurkan suatu bangsa jika rakyatnya utawi warganya selalu mementingkan jalan rekonsiliasi lan perdamaian:

 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, jika penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.

Hadirin jamaah jumah ingkang minulyo…

Mekaten khutbah ingkang saget kulo smapaikan, mugi-mugi memberikan tambahan manfaat kangge kita sedoyo. Lan, mugi-mugi dados pembelajaran kangge menyikapi setiap konflik utawi potensi perpecahan ingkang terjadi wonten ing masyarakat. Amin ya rabbal alamin… 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Juni 2019 in Khutbah

 

Dahsyatnya Kalimat La ilaha illallah

images• Dahsyatnya Kalimat لا إله إلا الله •

Kelak di akhirat, ketika orang-orang sudah pada masuk dan menikmati surga, ada beberapa orang (beriman) yang masih terpuruk di neraka. Mereka sudah berpuluh-puluh tahun, bahkan berjuta tahun mengalami penyiksaan neraka. Saking banyaknya dosa selama hidup di dunia.

Di antara mereka, ada si A.
Si A dipanggil menghadap Allah.
Lantas, Allah memerintahkan malaikat mendatangkan dosa-dosa si A.

Malaikat datang mengatarkan kontainer-kontainer besar yang berisi daftar dosa si A. Kontainer dosa itu dijejer di hadapan si A. Sepanjang mata memandang, di depannya tampak terlihat kontainer dosa miliknya. Saking banyaknya.

Allah bertanya, “Apa betul ini dosa-dosamu selama di dunia?”
Si A menjawab, “Betul, wahai Tuhanku.”

“Atau jangan-jangan malaikat pencatat amal punya sentimen padamu, sehingga dosamu menumpuo sekian banyaknya.”
“Mboten, Gusti. Memang itu kesalahan saya.”

“Atau, barangkali kamu punya udzur sehingga terpaksa melakukan dosa-dosa itu?” Allah masih menawar–memberikan peluang pada si A untuk mendapatkankeringanan siksaan.
“Mboten, Gusti. Itu murni kelalaian saya,” si A mengakui.

Lantas Allah meminta malaikat mendatangkan kebaikan si A.
Malaikat datang membawa kotak kecil berisi amal kebaikan si A.

“Bukalah, wahai malaikat,” perintah Allah.
Ternyata isinya kalimat tauhid لا إله إله إلا الله yang pernah dibaca si A dengan ikhlas semasa di dunia.

“Apa benar itu amalanmu di dunia?” Allah bertanya.
“Iya, Gusti,” ujar si A kurang bergairah.

“Oke, mari kit timbang amalanmu dengan dosa-dosamu?”
“Apa???” si A tak percaya. Pesimis. Masak amal sekotak kecil mau ditimbang dengan dosa berkontainer-kontainer itu.

“Jangan ngece gitu lah, Tuhan. أتمزح وأنت رب العالمين?”
Kalau bercanda jangan keterlaluan lah, Gusti. Begitu kira-kira respon si A.

Malaikat lantas menimbang amalan si A.
Kontainer-kontainer dosa di sisi sebelah kiri.
Sebentara box kebaikan di sisi sebelah kanan.

Ternyata, hasilnya di luar dugaan.
Timbangan itu langsung “jegleg” ke sebelah kanan.
Lebih berat amal kebaikan si A dibanding dosa-dosanya.

Alhamdulillah, si A dibawa ke taman surga. Dia melihat setiap orang sudah memperoleh surganya sendiri-sendiri. Punya istana sendiri-sendiri.

Allah berkata,
“Ya fulan, coba kamu bayangkan, seluruh kenikmatan-kenikmatan yang pernah ada diseluru,”

Si A membayangkan kehidupan dunia yang mewah, glamour, dan kenikmatan-kenikmatannya. Yang pernah didapatkan, maupun yang hanya pernah diangan-angankannya.

“Sudah?”
“Sudah, Gusti.”
“Nah,,, Jatah surgamu adalah seperti kenikmatan yang kamu bayangkan itu dikali sepuluh kali lipatnya.”
“Wowwww….”

Si A hampir pingsan tak percaya atas kebaikan dan rahmat Allah yang begitu besarnya.

Karena itu, jangan percaya kata orang; bahwa gara-gara baca لا إله إلا الله bareng-bareng di malam Jumat, bisa menjadikan pelakunya masuk neraka. Apalagi jumlah bacanya puluhan atau ratusan kali.
Wong ini sekali kalimat tauhid saja bisa menjadi sebab si A yang berlumur dosa masuk surga kok.

Masak yang baca berkali-kali, ahli ibadah, ahli jamaah, baik dengan tetangga dan keluarga, bisa masuk neraka gara-gara kalimat tahlil itu?
Lucu khan???

Karena itu, usahakan pernah sekali saja kita mengucapkan kalimat tersebut dari lubuk hati terdalam. Mengucapkan dengan kesadaran penuh dan keikhlasan hati. Mengucapkan dengan pengakuan yang sempurna seorang hamba kepada tuhannya. Itulah jalan menuju surga.

كلمة حق عليها نحيا وعليها نموت

Tritunggal, 7 Juni 2019
@mskholid

~ Cerita di atas, saya dengarkan dari ngaji bareng Gus Baha’. Dengan beberapa penambahan dan penyesuaian kalimat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juni 2019 in Catatan Harian

 

Saldo Masjid Harus NOL? (2)

*Saldo Harus NOL (bagian 2)?*

Uang amal itu rata-rata ditujukan utk pembangunan masjid. Kalau ada orang memasukkan uang ke kotak masjid, itu akadnya (kira-kira) adalah wakaf untuk pembangunan masjid.

Nah,
Namanya wakaf untuk pembangunan, hukumnya jelas tidak boleh, atau kalau mau keras lagi, haram digunakan utk kegiatan sosial keagamaan lainnya.
Seperti modal usaha warga, santunan yatim, dhuafa atau janda miskin. Atau untuk kegiatan selametan bagi yang terkena musibah kematian.

Karena itu, tidak boleh juga menggunakan kas pembangunan masjid utk dana buka bersama Ramadhan.

Makanya, di Masjid Roudlotul Muttaqin – Tritunggal ini dibuka saweran amal khusus untuk kebutuhan dana berbuka puasa. Dananya itu kalau ada saldo di tahun ini, maka akan disimpan untuk buka bersama tahun depan. Begitu seterusnya. Tidak boleh masuk dana wakaf pembangunan masjid (kecuali atas persetujuan orang yang beramal).

Maka,
Saya *COCOK* sekali saat melihat di beberapa masjid itu menyediakan kotak amal yang berbeda.
Ada banyak kotak. Yang tiap kotak ditulis berbeda.

Misalnya,
1. Kotak amal jariyah operasional masjid
2. Kotak amal pembangunan
3. Kotak dana sosial masyarakat
4. Kotak Takjil dan Buka Bersama
5. Kotak lain-lain…

Adanya kotak yang berbeda itu menjadikan bendahara masjid mudah mengelola uang kas masjid. Dan, tidak ada beban fiqih saat hendak menggunakan uang kas masjid. Karena, semuanya sudah dipilah-pilah sesuai kebutuhan dan kegunaan masing-masing.

Nah, untuk yang jenis kotak-kotak amal inilah mungkin yang bisa diterapkan saldo harus *NOL*.

@mskholid

*gambar diambil sebelum Ramadhan, saat bulan Sya’ban. Ziarah Sunan Giri.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2019 in Catatan Harian

 

Saldo Masjid Harus NOL? (1)

Saldo *”NOL”*, Kalau Tidak Nol, Pemberi Amal Tidak Dapat Pahala.
Benarkah?

Secara umum, Masjid tersebut, bisa jadi percontohan masjid-masjid Indonesia.

Cuma, ada satu yang perlu ditinjau soal pemikiran bahwa saldo masjid harus selalu nol. Kalau tidak nol, maka orang yang beramal tdk dapat pahalanya. Karena dananya masih di bendahara takmir.

Hitung-hitungan Allah jelas berbeda dengan hitungan manusia.
Ketika seseorang beramal, uang masuk kotak, dicatat bendahara, maka otomatis seketika itu dia dapat pahala. Tidak harus menunggu uang yang dimasukkan kotak amal itu digunakan.

Apalagi harus menunggu lembaran 2.000 an yang ada coret-coretan polpen miliknya, dipakai utk kebutuhan masjid.
Hitungan Allah, pokoknya beramal, langsung dapat pahala. Urusan yang masih di kas bendahara atau sudah dipakai, itu tanggung jawab takmir selaku pengelola.

Apa berani kita katakan; bahwa orang yang beramal keramik di lantai dua masjid Roudlotul Muttaqin itu, dapat pahalanya hanya _pendak_ setahun dua kali?
Yakni pas digunakan saat Idul Fitri dan Idul Adha?
Kan tidak?

Apa berani, kita katakan bahwa orang yang bersedekah keramik utk baris/shaf kesatu dan kedua itu paling banyak pahalanya. Dengan alasan paling sering dipakai (diinjak) utk shalat berjamaah?

Sementara yg jariyah keramik di shaf/baris belakang (atau bahkan diluar), itu dapat pahalanya jarang-jarang, karena jarang pula diinjak utk shalat berjamaah???

Bukan begitu logika Tuhan.

Saya jadi ingat salah seorang dermawan, yang menyumbang karpet utk sebuah Musholla (bukan di Babat).
Karena karpet Musholla tersebut masih cukup bagus, maka karpet sumbangan pak haji dermawan itu pun diletakkan di shaf belakangnya.

Berhari-hari Pak haji itu melihat kondisi Musholla. Ternyata yg rame jamaah hanya maghrib dan isyak. Sehingga karpet sumbangannya hanya terinjak utk berjamaah pada waktu maghrib dan isyak saja.
Dzuhur, Asar, dan Subuh, karpet sumbangannya tdk terinjak karena jamaah sedikit.

Karena fakta itu, dia berasumsi, bahwa dia tidak mendapatkan pahala dari karpet sumbangannya.

Apa yang terjadi?
Ironis.
Karpet sumbangannya ditarik lagi.

Saya tidak tau dibawa kemana itu karpet. Mungkin disumbangkan ke Musholla lain.

Bersambung…
Saldo Masjid Harus NOL 2?

@mskholid

*gambar hanya pemanis.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2019 in Catatan Harian

 

Amplop Penceramah, Diambil dari Mana?

• Dana untuk Amplop Penceramah, Diambil dari Mana? •

Suatu hari, datang beberapa orang pengurus teras masjid jami’ itu. Sowan menghadap Gus-e, dengan mengendarai 3 mobil. Padahal, kalau mereka naik 2 mobil saja sudah lebih dari cukup, kata Gus e.

Mereka adalah takmir salah satu masjid besar di Jawa Tengah. Hendak konsultasi soal dana santunan anak yatim yang rutin digelar setiap tahun. Saking gedenya acara santunan tersebut, kegiatan santunan itu bisa menghimpun ratusan juta dari para dermawan.

Sebagaimana lazimnya acara santunan, diselingi pula dengan ceramah agama yang menghadirkan seorang kiai ternama.

Para pengurus masjid hendak bertanya tentang hukum mengambil uang santunan dari para dermawan untuk amplop penceramah.
Tidak Boleh, jawab Gus-e tegas.

Kenapa tak boleh.
Karena secara hukum, uang santunan itu adalah hak anak-anak yatim yang hendak disantuni. Bukan hak penceramah. Soal ada tambahan acara penceramah, itu kan kegiatan Sampean semua (panitia).

Masalah #1:

Kalaupun boleh mengambil uang santunan anak yatim, untuk dialokasikan penceramah, apakah para takmir (panitia) menjamin sanggup meminta izin (keikhlasan) dari semua anak yatim yang dapat santunan?
Wong itu hak mereka.

“Insya Allah mereka mengizinkan, Gus,” jawab mereka–para takmir.
Mereka yakin saja, lha wong para yatim itu tinggal duduk saja, pulang bawa bingkisan. Masak berani protes-protes.

Masalah #2;

Kalaupun, misalnya, para yatim itu sudah mengizinkan dan mengikhlaskan semua, lantas apa para donatur akan setuju dan ikhlas semua jika dananya dipakai untuk membiayai amplop penceramah?
Belum tentu, khan?

Para donatur, begitu dibilang dana untuk santunan anak yatim, pasti akan tergerak menyumbang. Tak peduli itu anak yatim siapa.
Tak peduli dari organisasi apa.
NU, kek.
Muhammadiyah, kek.
Salafi, kek.
Ikhwan, kek.
Semua orang akan sepakat dan setuju untuk bantu.

Tapi, jika dananya untuk mengundang penceramah.
Pasti lihat-lihat penceramahnya dulu.

Donatur dari NU akan langsung setuju jika penceramahnya kiai NU.
Tapi, akan langsung nolak jika penceramahnya Wahabi.
Donatur dari Muhammadiyah akan sepakat jika penceramahnya pengurus teras Muhammadiyah.
Tapi, akan langsung emoh saat tahu yang ceramah dari NU.
Begitu pun orang Wahabi, akan lansgung sepakat mengiyakan, jika penceramahnya dari kalangan Wahabi.
Tapi, akan jimprak-jimprak saat tau bahwa penceramahnya dari NU.

“Lha, terus untuk amplop penceramah itu ambil uang dari mana, Gus?”
“Berapa sih amplopnya?”
“Ya, sekitar 2 jutaan, Gus?”
“Ahhh… Kalian itu kan kaya-kaya. Kenapa gak urunan saja berapa ratus ribu per orang untuk ngamplopi penceramah itu?”
“Nggeh, Gus. Siap!!!”

Itulah kenapa, sebaiknya, semua dana santunan anak yatim, harus masuk semua ke anak yatim. Kalaupun panitia butuh dana untuk acara pengiring atau operasional, buka saja donasi khusus untuk biaya operasional santunan anak yatim. Supaya tidak bercampur antara hak anak yatim dengan kebutuhan lainnya.

Babat, 2 Juni 2019
29 Ramadhan 1440 H
@mskholid

* Ditulis ulang dari ngaji bareng Gus Baha’, dengan sebatas ingatan saya yang terbatas. Barangkali ada yang kurang, mohon koreksinya. insya Allah, secara garis besar, materinya seperti itu.
* Tulisan “Mengikat Makna” ala (alm) Pak Hernowo. Biasanya ingatan saya akan lebih kuat jika menuliskan ulang materi yang pernah saya pelajari/dengar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2019 in Catatan Harian

 
 
Fath Indah Tour - Lamongan

Ibadah Nyaman, Khusyuk, dan Hemat

RONIta Digital Printing

Solusi Digital Printing Anda

SALAFY INDONESIA

Pemurnian Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Polusi Ajaran Wahabiyah

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

So many books, so little time.

A great WordPress.com site

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Riung Center

Community Development PT Riung Mitra Lestari

Lamongan Kota Tercinta

Yang Seru & Unik di Lamongan

UD Lestari Jaya

Furniture | Meubel | Kayu Jati Pilihan