RSS

Bapak Membuatkan Papan Tulis di Dinding [Serial Bapak]

19 Mar

Mengasah Kecerdasan Anak dengan Menggambar

Hari ini saya membaca sebuah artikel tentang pendidikan anak. Artikel yang dimuat di rubrik Family Harian Seputar Indonesia itu berjudul “Mengasah Kecerdasan dengan Menggambar”. Dalam artikel, disebutkan salah satu cara meningkatkan kecerdasan anak adalah dengan memberinya ruang yang lebih luas baginya untuk menggambar. Lewat menggambar atau mewarnai, kreatifitas anak mulai terasah dan terbentuk. Bahkan disebutkan, anak umur 5-12 yang terbiasa menggambar di rumah akan lebih mudah memahami pelajaran di sekolah. Bahkan, kegiatan menggambar jauh lebih bermanfaat bagi anak daripada membaca atau berhitung.

Artikel juga menyebutkan, anak sebaiknya diberikan fasilitas yang memadai untuk menuangkan imajinasinya dengan memberikannya perangkat menggambar dan mewarnai. Tapi, walaupun sudah disediakan kertas gambar, anak kerapkali lebih suka menggambar di dinding. Sebabnya, ukuran gambar yang besar di dinding membuat anak merasa terlibat dalam kehidupan tokoh imajinasi yang digambarnya. Berbeda dengan kertas gambar yang minim.

Soal menggambar ini, setidaknya saya teringat dua sosok. Yang satu, beliau sudah tiada. Meninggalkan dunia ini. Sebaliknya, yang kedua masih bocah. Baru duduk di kelas taman kanak-kanak.

Sosok yang pertama adalah Bapak. Saya tak yakin Bapak pernah membaca artikel semacam ini. Yang menyebutkan ada keterkaitan antara kebiasaan menggambar dengan kecerdasan. Yang menyatakan anak harus diberikan ruang yang luas untuk menuangkan imajinasinya. Namun, Bapak melakukan itu—ketika saya kecil. Karena keterbatasan ekonomi, Bapak tidak mampu membelikan kami whiteboard plus spidolnya. Ataupun kertas gambar beserta aneka crayon dan pensil warna. Semuanya tak ada sama sekali dalam kehidupan masa kecil saya.

Di bagian dinding samping rumah saya, ada jendela besar seukuran papan tulis. Karena belum ada biaya, Bapak belum bisa memasang jendela kayu (dan kaca) di sana. Untuk menyiasatinya, Bapak menutupnya dengan tripleks dan kemudian memakunya. Bisa dibilang belum ada fungsi jendela di sana. (Tulisan lain tentang jendela ini, bisa dibaca di blog adik saya).

Seperti halnya anak kecil lainnya, masa kecil saya juga senang coret-coret. Di buku-buku atau di dinding. Kreatifnya Bapak, beliau lalu berinisiatif membeli cat hitam. Nah, bagian dalam triplek di jendela itulah yang dicat oleh Bapak. Kata beliau waktu itu, ini untuk papan tulismu. Maka, aku dengan setia menunggui beliau mengecat seluruh bagian papan tulis itu. Bahkan, mungkin sok bantu-bantu ngecat.

Bapak lalu membelikanku sekotak kapur tulis warna putih. Persis seperti yang ada di sekolahan, aku begitu bahagia. Maka, petualanganku dimulai di sana. Selalu ada gambar yang kugoreskan di papan itu. Menurut Emak, dua gambar favoritku (aku bahkan sudah lupa tentang ini) adalah sosok Hulk dan Kura-kura Ninja. Dua tokoh idola anak-anak di masa kecilku. Terkadang, Bapak juga membelikanku kapur berwarna sebagai tambahan coret-coret.

Sosok kedua adalah adik iparku. Alim Musthofa, bocah kelas taman kanak-kanak punya bermacam tingkah yang menggelikan dan bikin gemas. Di antara hal yang membanggakan adalah ia juga senang dengan buku dan menggambar. Maka, tiap kali pulang kampung aku selalu berusaha membawakannya buku-buku cerita untuknya. Lalu, Mbak-nya yang kebagian membacakan atau menceritakan isi buku. Terkadang, saya juga kebobohan baca cerita juga. Ia juga sangat suka menggambar dan mewarnai. Saat di rumah, saya browsing di internet gambar-gambar dasar (hitam-putih) yang disediakan untuk mewarnai. Saya unduh dan print. Setelah itu, si Alim ini akan khusuk dalam dunianya mewarnai gambar.

Saya akui, saya tak pintar menggambar. Gambar saya sangat jelek. Namun, kerapkali saya coba mengajarkan si Alim menggambar tokoh yang ada di dalam buku yang habis saya bacakan. Ia begitu bersemangat. Lalu, dia akan mencontoh gambar yang saya buat atau mewarnainya. Katanya, gambar Mas Olid bagus. Hehehe…

Kalau sudah terlanjur asyik menggambar, makan pun harus disuapi sambil “bekerja”. Jika sudah begitu, saya hanya dapat menyesali diri tak terlalu pintar menggambar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Maret 2013 in Bapak

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Kata Bang DW

melawan sebuah dogma tentang ada rahasia dibalik rahasia

Indonesia Bangkit

Melek Politik karena Politik itu Asyik :)

ayo mendidik

Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup

Pusatnya Sablon Digital, Sticker Digital dan Produk Kreatif Berbasis Digital Printing

PERHATIAN !!! : Semua Artikel dalam blog ini milik RONIta. Jika anda mengcopinya maka cantumkan http://ronitadp.wordpress.com sebagai sumbernya. Semua Artikel yang kami tulis berdasarkan pengalaman kami sendiri bukan hasil jiplak sana-sini, dengan bekal pengalaman dan dukungan vendor mesin/bahan kelas dunia membuat RONIta selalu siap membantu anda dalam hal digital printing

Journey of Sinta Yudisia

Mother. Wife. Writer. Wanderer.Someday, a Psychologist

KAK ADIN AHLI DONGENG INDONESIA

TURUT MEMBANGUN KARAKTER BANGSA MELALUI CERITA

Boneka Menik

a home for all my cute crochet creatures

SALAFY INDONESIA

Pemurnian Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Polusi Ajaran Wahabiyah

shalizafirza

my life, my imagination, my story

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 506 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: